Sekali-sekali coba bercerita tentang komputer desktop. Bagi saya, ini adalah malam pertama eh… pengalaman perdana menulis tentang komputer desktop.
Kisah ini bermula pada beberapa bulan silam, ketika saya berkomunikasi tanpa tatap muka dengan seorang kenalan lama. Dulu, saat kali pertama mengenalnya, ia bergelut dengan produk yang berhubungan dengan seluler. “Lulus” dari perusahaan itu, kami praktis tak pernah lagi saling kontak. Kini ia ternyata menangani produk Gateway.
Gateway. Saya pernah mengenal merek itu. Namun, belum pernah mencoba, apalagi memiliki produk tersebut.
Barusan, dari hasil bertanya ke Om Google, Gateway ternyata lahir di Midwestern, AS, pada 1985. Bermodalkan uang pinjaman USD 10 ribu, komputer pinjaman, dan rencana bisnis yang cuma tiga halaman, Ted Waitt Gateway, mengembangkan Gateway.
Hasilnya, Gateway tumbuh menjadi sebuah perusahaan revolusioner yang aneka inovasinya turut membentuk industri teknologi. Konon Gateway telah memuaskan jutaan pelanggan. Pada 1993, Gateway menembus deretan Fortune 500 dan memasuki lantai bursa. Kalau tertarik belajar sejarah komplet Gateway, silakan masuk ke http://id.gateway.com/about/index.html deh.
Kembali ke Gateway dan saya. Tahun lalu, dalam sebuah pameran komputer di Surabaya, saya nyaris membeli notebook Gateway. Kebetulan saat itu sedang ada penawaran yang cukup menarik.
Karena sesuatu hal, yang tak saya ingat lagi penyebab detailnya, hari itu saya menunda pembelian hingga keesokan harinya. Namun, ternyata keesokan harinya dan sehari sesudahnya, saya tak sempat kembali mengunjungi pameran tersebut. Pameran akhirnya usai dan saya batal membeli notebook baru. Toh pembelian tersebut belum mendesak. Sebab, selain memiliki notebook dengan baterai yang sudah 99 persen tewas, saya mempunyai netbook yang kinerja baterainya masih prima. Akhir bulan depan netbook itu berulang tahun pertama, sedangkan pada pertengahan Desember 2011, si notebook memperingati ulang tahun ketiga.
Lha desktop PC-nya mana? Terus terang kini saya tidak memiliki desktop PC alias komputer desktop. Saya kali terakhir memiliki komputer desktop (selanjutnya saya sebut desktop saja ya…) sekitar delapan tahun lalu. Spesifikasinya masih minimalis. Komputer “jangkrik” Pentium II 300, harddisk sekitar 100 GB, dan memiliki CD-ROM.
Alasan saya tak menggunakan desktop sederhana saja. Sehari-hari saya rutin berpindah tempat dari satu kantor ke kantor lain, dari satu kafe ke kafe lain, atau dari satu mal ke mal lain. Bahkan, kadang harus terbang dari satu kota ke kota lain. Dengan perilaku seperti itu, pemakaian desktop saya anggap kurang praktis. Sebab, berarti saya harus menyinkronkan data setiap kali hendak berpindah tempat.
Singkat cerita, kenalan lama saya itu menawarkan pinjaman desktop all-in-one Gateway. “Buat dicoba-coba. Siapa tahu ada masukan untuk kami,” tukasnya.
“Boleh deh. Namun, tidak akan saya review di media cetak maupun radio lho ya. Sebab, spesialisasi sebenarnya di perponselan,” jawab saya.
Singkat cerita, koordinasi pengiriman desktop pinjaman mulai diatur. Setelah sempat tertunda karena beragam penyebab, suatu siang sebuah kardus besar mendarat di rumah saya. Inilah penampakan kardus desktop pertama saya dalam delapan tahun terakhir.

Penampakan sisi lainnya seperti ini:

Di salah satu sisi kardus terpampang spesifikasinya. Ini dia. Silakan klik foto untuk memperbesar tampilan.

Saya coba salin ulang sebagian ya…
Komputer
ZX6961
Sistem Operasi Windows 7 Home Premium 64-bit
Monitor Komputer 23″ MultiMedia Touch Monitor with Full HD 1080P
Unit Pengolah Pusat Intel Core i5 processor 2400S
Memori 4GB DDR3 Memory
Cakram Keras 1TB Hard Drive
Cakram Laser DVD-Super Multi drive
Kartu Grafis NVIDIA GeForce GT420 1024 MB
Jaringan Area Lokal Integrated LAN 10/100/1000 & Wireless LAN
Modem None
Papan Ketik Wireless keyboard
Tetikus Wireless mouse
Pengeras Suara Internal speaker
Saya tak akan mengomentari spesifikasinya. Saya justru lebih tertarik membahas pemakaian istilah bahasa Indonesia baku di lembaran spesifikasi itu. CPU telah dialihbahasakan menjadi unit pengolah pusat, harddisk menjadi cakram keras, sedangkan local area network (LAN) menjadi jaringan area lokal. Ada pula tetikus yang merupakan terjemahan baku mouse.
Sebagai pengganti CD/DVD drive, digunakan istilah cakram laser. Entah pemakaian istilah itu tepat atau tidak. Sebab, kalau mengacu pada glosarium Pusat Bahasa Depdiknas RI, cakram laser merupakan alih bahasa dari laserdisc.
Beralih ke papan ketik. Pembaca kalimat itu pasti akan memahami bila yang dimaksud adalah keyboard. Namun, lagi-lagi kalau mengacu ke glosarium yang saya sebutkan di atas, istilah papan ketik takkan ditemukan. Kalau kita mencari kata keyboard di istilah asing, maka istilah bahasa Indonesia yang bakal ditemukan adalah papan tombol.
Untunglah Gateway ZX6961 yang dipinjamkan kepada saya tidak dilengkapi joystick. Andaikan ada, jangan-jangan di lembar spesifikasi yang melekat di kardus akan tercetak tulisan batang gembira atau tongkat ria.