Silakan mengetikkan penawaran tertinggi Anda di bagian bawah halaman ini.

Lelang berlangsung sampai pukul 16.00 WIB. Ketika penunjuk waktu di situs ini berubah menjadi pukul 16.01, lelang otomatis berakhir.

Penawaran tertinggi yang memenangkan lelang belum termasuk ongkos kirim ya…

Setiap kali akan membeli atau bersentuhan dengan desktop PC, notebook, maupun netbook baru, ada dua hal yang selalu saya perhatikan lebih dulu. Yaitu, kenyamanan layar dan keyboard. Bila dua poin itu lulus, saya baru mencermati spesifikasi lainnya.

Keyboard Gateway One ZX6961 yang dipinjamkan kepada saya termasuk “lulus ujian” versi saya. Jari-jari tangan saya yang tak bisa dibilang mungil merasa nyaman kala harus menari-menari di atasnya. Kalau menggunakan istilah yang lebih keren, keyboard tersebut tergolong ergonomis.

Mengetik naskah selama berjam-jam memakai Gateway One menjadi lebih menyenangkan. Layar lebar, keyboard enak, dan segala proses berlangsung trengginas. Bila rasa jenuh mulai menyerang, tersedia aneka alternatif yang bisa saya pilih.

Pertama, berhenti mengetik, lalu tidur atau berwisata kuliner. Lho?

Kedua, memutar musik yang bakal mengalun merdu lewat speaker internal.

Alternatif lain, menuju ke posisi desktop. Di sana ada ada shortcut Gateway Games.

Beragam permainan leluasa saya pilih.

Yang paling menyenangkan, tersedia game Insaniquarium. Game itu kali pertama saya kenal saat masih rutin bercengkerama dengan PDA Palm, bertahun-tahun silam. Kini saya bisa bernostalgia memakai layar yang jauh lebih besar dan suara jauh lebih bagus. Mantap!

Game keluaran lebih baru, minimal setahu saya baru muncul setelah Insaniquarium, pun ada. Contohnya, Zuma. Sebelum Facebook menimbulkan demam masal di Indonesia, Zuma termasuk salah satu game yang mengurangi produktivitas karyawan pada jam kerja. Betapa tidak, ketika berada di kantor, tak sedikit pekerja yang justru asyik bermain “tembak kelereng” itu.

Kembali ke laptop eh… desktop. Berbagai widget bisa ditambahkan ke halaman ini. Misalnya, jam analog, informasi cuaca, dan nilai tukar mata uang. Asalkan tersambung ke internet, informasi cuaca dan nilai tukar mata uang dapat senantiasa di-update.

Perhatikan lagi foto di atas. Di sudut kanan atas ada gambar orang kan? Kalau diklik, berarti saya akan membuka Gateway TouchPortal. Seperti ini wujudnya.

Tampilannya bisa dipersonalisasi sekehendak hati. Mau dibuat lebih imut seperti ini juga bisa.

Beragam fungsi tambahan dapat dioptimalisasikan pengguna di TouchPortal. Di antaranya, TouchMediaShare, TouchMusic, TouchFriends, dan TouchMemo. Ehmm… kalau di seluler, ia ibarat value added services alias layanan nilai tambah deh.

Oh ya, Gateway One dibekali kamera. Gateway menyebutnya TouchCam. Saya bebas memilih beragam efek tambahan. Mau dibersihkan bak sebuah gedung perkantoran? Bisa.

Ingin sok meriah laksana perayaan tahun baru? Boleh kok.

Awas, kepala saya terbakar!

Kali ini saya mendadak jadi kepala suku Indian. Hiawata raksasa. Ha… ha… ha…. :D

Kalau yang ini, kepala saya berubah jadi kayak alien

Ketika baru bangun tidur dan nggak percaya diri menampilkan wajah, diganti ini saja deh.

Kesimpulannya, apakah Gateway One ZX6961 layak beli? Jawabannya, bergantung kebutuhan masing-masing pengguna.

Sekadar bercerita, pada iklan yang beberapa waktu lalu saya baca, ZX6961 dibanderol Rp 10,999 juta. Pembeli yang masih berstatus pelajar mendapatkan diskon Rp 100 ribu.

Kalau dibandingkan dengan harga netbook atau desktop PC rakitan, harga itu tentu tampak amat tinggi. Namun, setelah mencobanya, barulah ketahuan kalau nilai tersebut sepadan dengan yang diperoleh pengguna. Akumulasi antara spesifikasi tinggi, kinerja prima, dan kenyamanan ekstra membuat ZX6961 pantas dipertimbangkan oleh seseorang yang sedang memburu desktop PC all-in-one. Eh… lantaran tampilan fisiknya cantik, ia seharusnya bisa sekaligus menunjang keindahan ruangan ya.

Bagaimana jika anggaran terbatas, tetapi keinginan meminang desktop PC all-in-one tak terbendung? Calon pembeli mungkin bisa melirik tipe lain yang lebih murah. Ketika mengunjungi sebuah pameran komputer, bulan lalu, saya melihat ada satu varian Gateway One yang dibanderol Rp 5,299 juta. Saya lupa nomor tipenya. Yang saya ingat, salah satu pembeda utamanya, monitor yang disertakan bukan berlayar sentuh.

Andaikata sinetron, posting ini merupakan season kedua…

Umpama cerita silat, posting ini merupakan seri kedua…

Kalau saja pernikahan, berarti posting ini adalah wujud poligami dong. :)

Belum pernah membaca posting pertama? Silakan masuk ke http://ubaya.com/?p=19 dulu deh.

Singkat cerita, Gateway One ZX6961 pinjaman saya keluarkan dari kardusnya. Monitor berlayar sentuh 23 inci diletakkan dengan hati-hati di meja. Penyangga lipatnya diatur dengan tingkat kemiringan yang saya anggap aman sekaligus nyaman. Aman bermakna monitor disangga dengan kuat. Saya tak perlu khawatir monitor yang mendukung full HD 1080P itu akan terjatuh. Sedangkan nyaman dalam arti sudut kemiringan monitor tersebut membuat saya bisa memandangnya selama berjam-jam dengan enak.

Tuntas mengatur monitor, saatnya memasangkan keyboard dan mouse alias tetikus. Keduanya nirkabel. Tak ada lagi kabel yang menjulur ke sana kemari.

Hmmm… tetikusnya kok tidak bisa “bercakap-cakap” dengan Gateway One. Pasti ada sesuatu yang saya lupakan. Aha… ternyata saya lupa memasangkan sebuah benda mungil ke salah satu port USB Gateway One. Tahu kan apa fungsinya?

Pemasangan Gateway One tuntas dilakukan. Hasil akhirnya seperti ini. Monitor sengaja tidak saya jepret penuh supaya keyboard dan tetikus terlihat lebih dekat.

Oke, saatnya menjelajahi Gateway One tersebut. Kita mulai dengan monitor. Di sisi kiri belakang terdapat aneka konektor. Jumlahnya lebih dari sepuluh tuh. Sebutkan satu per satu! Lho, kok jadinya malahan ujian?

Sebuah cakram keras alias DVD-super multi drive tersedia di bagian kiri atas.

Sedangkan di sisi kiri bawah, pengguna bakal menjumpai slot pembaca kartu memori.

Dua port USB, konektor earphone, dan mikrofon terdapat di sisi kanan bawah monitor. Kalau dihitung, berarti jumlah port USB di Gateway One pinjaman ini lebih dari setengah lusin.

Mari kita menyalakannya, lalu menggunakan Gateway One untuk berbagai aktivitas. Tak perlu repot-repot menginstalasikan sistem operasi. Sebab, sistem operasi Windows 7 Home Premium 64-bit telah dibenamkan ke desktop all-in-one tersebut. Tentu saja sistem operasi tersebut orisinal, bukan versi “petani”.

Tampilan layar tampak tajam dan cemerlang. Mau bekerja menggunakan Microsoft Excel? Enak banget. Maklum, ukuran layarnya 23 inci. Sisi horizontalnya menampilkan kolom A hingga Z, sedangkan sisi vertikal menyajikan 40 baris sekaligus. Adik saya yang sehari-hari rutin ber-Excel amat gembira deh. Kalau saya tidak sedang di rumah, ia langsung menginvasi Gateway One.

Mau bermain Angry Birds? Wah, nyaman sekali. Layar yang lebar dan bisa “dicubit-cubit” membuat saya mendadak pintar mengatur penyerbuan burung marah ke gerombolan babi.

Ketika melihat-lihat koleksi foto, saya bisa melakukan zoom in maupun zoom out dengan mudah. Saya tinggal “mencubit” layar atau merenggangkan dua jari. Beralih dari satu foto ke foto lain dapat dilakukan dengan menyapukan jari ke layar.

Untuk mengatur tingkat pencahayaan layar, saya tinggal menekan tombol sentuh di bagian bawah layar.

Bagaimana kalau ingin mengatur volume? Ada dua cara. Pertama, dengan bantuan tetikus, saya mengklik ikon di kanan bawah monitor.

Kedua, memanfaatkan remote control yang disertakan dalam paket penjualan.

Pernah makan gado-gado, tetapi hanya tahu dan bumbu kacang? Atau, cuma sayur tanpa pernak-pernik lainnya? Pasti nggak enak deh. Gado-gado baru nikmati kalau memadukan antara sayur, kentang, tahu, kerupuk, dan bumbu kacang.

Nah, di Gateway One, perpaduan antara prosesor Intel Core i5 2400S, memori DDR3 4 GB, kartu grafis NVIDIA GeForce GT420 1024 MB, dan cakram keras alias harddisk 1 terabyte ibarat gado-gado yang lezat itu.

Mau memutar video? Silakan. Suara yang keluar dari speaker internal Gateway One terdengar mantap. Tampilan gambar tajam sekaligus lega. Kapasitas harddisk yang besar memungkinkan pengguna menyimpan aneka film favorit maupun musik ke Gateway One.

Sehari-hari saya menggunakan mi-fi untuk terhubung ke dunia maya. Mini wireless router itu diakses oleh beragam peranti yang saya miliki. Mulai notebook hingga peranti Android. Kartu yang diselipkan bisa GSM, bisa CDMA, bergantung operator mana yang kinerjanya sedang prima.

Gateway One akhirnya turut menikmati koneksi via Wi-Fi ke peranti mi-fi yang dimensi fisiknya seukuran tetikus itu. Yup, selain LAN, Gateway One memang mendukung konektivitas Wi-Fi.

Suatu hari, beberapa puluh file hasil mengunduh lewat Gateway One hendak saya kopikan ke USB flash disk. Adik saya yang kebetulan melihat proses pengopian itu berkomentar, “Lho kok cepat banget? Sruuuutttttt… gitu sudah selesai.” Ia membandingkan proses pengopian Gateway One dengan desktop PC di kantornya.

…bersambung….

Sekali-sekali coba bercerita tentang komputer desktop. Bagi saya, ini adalah malam pertama eh… pengalaman perdana menulis tentang komputer desktop.

Kisah ini bermula pada beberapa bulan silam, ketika saya berkomunikasi tanpa tatap muka dengan seorang kenalan lama. Dulu, saat kali pertama mengenalnya, ia bergelut dengan produk yang berhubungan dengan seluler. “Lulus” dari perusahaan itu, kami praktis tak pernah lagi saling kontak. Kini ia ternyata menangani produk Gateway.

Gateway. Saya pernah mengenal merek itu. Namun, belum pernah mencoba, apalagi memiliki produk tersebut.

Barusan, dari hasil bertanya ke Om Google, Gateway ternyata lahir di Midwestern, AS, pada 1985. Bermodalkan uang pinjaman USD 10 ribu, komputer pinjaman, dan rencana bisnis yang cuma tiga halaman, Ted Waitt Gateway, mengembangkan Gateway.

Hasilnya, Gateway tumbuh menjadi sebuah perusahaan revolusioner yang aneka inovasinya turut membentuk industri teknologi. Konon Gateway telah memuaskan jutaan pelanggan. Pada 1993, Gateway menembus deretan Fortune 500 dan memasuki lantai bursa. Kalau tertarik belajar sejarah komplet Gateway, silakan masuk ke http://id.gateway.com/about/index.html deh.

Kembali ke Gateway dan saya. Tahun lalu, dalam sebuah pameran komputer di Surabaya, saya nyaris membeli notebook Gateway. Kebetulan saat itu sedang ada penawaran yang cukup menarik.

Karena sesuatu hal, yang tak saya ingat lagi penyebab detailnya, hari itu saya menunda pembelian hingga keesokan harinya. Namun, ternyata keesokan harinya dan sehari sesudahnya, saya tak sempat kembali mengunjungi pameran tersebut. Pameran akhirnya usai dan saya batal membeli notebook baru. Toh pembelian tersebut belum mendesak. Sebab, selain memiliki notebook dengan baterai yang sudah 99 persen tewas, saya mempunyai netbook yang kinerja baterainya masih prima. Akhir bulan depan netbook itu berulang tahun pertama, sedangkan pada pertengahan Desember 2011, si notebook memperingati ulang tahun ketiga.

Lha desktop PC-nya mana? Terus terang kini saya tidak memiliki desktop PC alias komputer desktop. Saya kali terakhir memiliki komputer desktop (selanjutnya saya sebut desktop saja ya…) sekitar delapan tahun lalu. Spesifikasinya masih minimalis. Komputer “jangkrik” Pentium II 300, harddisk sekitar 100 GB, dan memiliki CD-ROM.

Alasan saya tak menggunakan desktop sederhana saja. Sehari-hari saya rutin berpindah tempat dari satu kantor ke kantor lain, dari satu kafe ke kafe lain, atau dari satu mal ke mal lain. Bahkan, kadang harus terbang dari satu kota ke kota lain. Dengan perilaku seperti itu, pemakaian desktop saya anggap kurang praktis. Sebab, berarti saya harus menyinkronkan data setiap kali hendak berpindah tempat.

Singkat cerita, kenalan lama saya itu menawarkan pinjaman desktop all-in-one Gateway. “Buat dicoba-coba. Siapa tahu ada masukan untuk kami,” tukasnya.

“Boleh deh. Namun, tidak akan saya review di media cetak maupun radio lho ya. Sebab, spesialisasi sebenarnya di perponselan,” jawab saya.

Singkat cerita, koordinasi pengiriman desktop pinjaman mulai diatur. Setelah sempat tertunda karena beragam penyebab, suatu siang sebuah kardus besar mendarat di rumah saya. Inilah penampakan kardus desktop pertama saya dalam delapan tahun terakhir.

Penampakan sisi lainnya seperti ini:

Di salah satu sisi kardus terpampang spesifikasinya. Ini dia. Silakan klik foto untuk memperbesar tampilan.

Saya coba salin ulang sebagian ya…

 

Komputer

ZX6961

Sistem Operasi             Windows 7 Home Premium 64-bit

Monitor Komputer     23″ MultiMedia Touch Monitor with Full HD 1080P

Unit Pengolah Pusat   Intel Core i5 processor 2400S

Memori                            4GB DDR3 Memory

Cakram Keras                1TB Hard Drive

Cakram Laser                DVD-Super Multi drive

Kartu Grafis                   NVIDIA GeForce GT420 1024 MB

Jaringan Area Lokal   Integrated LAN 10/100/1000 & Wireless LAN

Modem                             None

Papan Ketik                    Wireless keyboard

Tetikus                             Wireless mouse

Pengeras Suara             Internal speaker

Saya tak akan mengomentari spesifikasinya. Saya justru lebih tertarik membahas pemakaian istilah bahasa Indonesia baku di lembaran spesifikasi itu. CPU telah dialihbahasakan menjadi unit pengolah pusat, harddisk menjadi cakram keras, sedangkan local area network (LAN) menjadi jaringan area lokal. Ada pula tetikus yang merupakan terjemahan baku mouse.

Sebagai pengganti CD/DVD drive, digunakan istilah cakram laser. Entah pemakaian istilah itu tepat atau tidak. Sebab, kalau mengacu pada glosarium Pusat Bahasa Depdiknas RI, cakram laser merupakan alih bahasa dari laserdisc.

Beralih ke papan ketik. Pembaca kalimat itu pasti akan memahami bila yang dimaksud adalah keyboard. Namun, lagi-lagi kalau mengacu ke glosarium yang saya sebutkan di atas, istilah papan ketik takkan ditemukan. Kalau kita mencari kata keyboard di istilah asing, maka istilah bahasa Indonesia yang bakal ditemukan adalah papan tombol.

Untunglah Gateway ZX6961 yang dipinjamkan kepada saya tidak dilengkapi joystick. Andaikan ada, jangan-jangan di lembar spesifikasi yang melekat di kardus akan tercetak tulisan batang gembira atau tongkat ria. :)

Berawal dari pembicaraan ngalor ngidul dengan seorang kenalan lama, saya mendapatkan pinjaman desktop PC. Bagi saya, ia adalah desktop pertama dalam delapan tahun terakhir.

Inilah penampakan desktop tersebut kala baru mendarat di rumah saya.

Setelah dikeluarkan dari kardusnya, dirangkai sebentar, lalu diletakkan di atas meja, seperti ini tampilan fisiknya.

Bagaimana kesan pertama menggunakan desktop all-in-one bermerek Gateway itu? Kalau sudah agak senggang, ntar saya ceritakan lebih detail deh.